Entry: story for remember our mother Friday, November 12, 2004



Salah satu temen gw di friendster mengirimkan ini kepada gw. Setelah gw baca emang sanagt menyentuh perasaan gw jadi gw taruh di blog gw juga.
Suatu pertanyaan gw buat kamu2, seberapa pantas perlakuan kamu pada seorang ibu yang telah melahirkan kamu.......
Baca dan rasakan ini:

Setelah 21 tahun menikah, saya tiba-tiba
menemukan cara baru dalam menyalakan api
cinta kami. Demikian tulis seorang pria yang ingin
berbagi pengalaman.

Beberapa waktu lalu istri saya mengusulkan agar
saya berkencan dengan seorang perempuan lain,
besok malam.

"Kamu akan mencintainya," kata istri.

"Apa-apaan sih," protes saya. "Mengapa
kamu tidak ikut?"

"Itu acara kamu berdua dia," jawab istri.

Perempuan yang dimaksudnya adalah ibu saya
yang telah menjanda selama 19 tahun
belakangan ini. Saya jarang menemuinya karena
kesibukan kerja dan mengurus tiga anak kami.

Malam itu saya telepon ibu, mengajaknya makan
malam dan nonton film. Berdua saja.

"Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung
telepon.

Ibu saya adalah tipe yang selalu curiga kalau
menerima telepon ditengah malam atau
undangan yang datangnya tiba-tiba. Bagi dia, itu
pasti akan membawa berita buruk.

"Saya pikir, pasti akan menyenangkan kalau kita
sekali-sekali ke luar berdua saja," jawab saya.

"Ibu mau sekali," jawabnya setelah terdiam
beberapa lama. Aha, dia masih curiga.

Besok malam, sepulang kantor saya ke rumah
ibu. Dia terlihat agak senewen tapi berdandan
resmi sekali. Ibu jelas telah menata rambutnya di
salon, dan dia memakai gaunnya yang terbaik.
Gaun yang dipakai pada pesta ulang tahun
perkawinan yang terakhir ketika ayah masih hidup.

Ibu menyambut saya dengan senyum lebar.
"Saya bilang ke kawan-kawan tentang rencana
kita ini. Mereka semua kaget dan merasa ikut
senang seperti ibu sekarang," kata ibu seraya
masuk mobil.

"Mereka bilang besok pagi ingin tahu ceritanya."

Kami pergi ke restoran yang agak mahal.
Suasananya elegan, menyenangkan.

Ibu menggandeng lengan saya ketika memasuki
ruangan, persis seperti First Lady. Jalannya
anggun.

Saya harus membacakan daftar menu karena ibu
tak bisa lagi membacanya walau dengan
kacamata tebal.

Ketika sedang membaca daftar itu, saya berhenti
sejenak menengok ke ibu.

Dia sedang memandangi saya dengan senyum
kasih.

"Dulu, ibu yang membacakan kamu daftar menu
ketika kau masih kecil," katanya. "Sekarang ibu
santai saja. Giliran saya yang melayani ibu,"
jawab saya.

Sambil makan, kami membincangkan banyak
hal sehari-hari. Tidak ada topik yang istimewa
tapi obrolan mengalir saja sampai-sampai kami
terlambat untuk menonton film.

Mengantarnya pulang, di muka pintu ibu
berkata, "Ibu mau pergi lagi dengan kamu, tapi
lain kali ibu yang bayar."

Saya setuju.

"Bagaimana kencanmu?" tanya istri saya di
rumah.

"Sangat menyenangkan. Lebih dari yang saya
duga. Tadinya tidak tahu mau ngomong apa."

Beberapa hari kemudian, ibu meninggal karena
serangan jantung. Begitu tiba-tiba kejadiannya,
saya tidak sempat berbuat apa-apa untuk
menolongnya.

Satu minggu berlalu, sepucuk surat tiba dari
restoran tempat ibu dan saya makan malam.
Surat itu dilampiri kopi tanda lunas. Ada selembar
kertas diselipkan di situ, bertuliskan:

"Ibu sudah bayar makan malam kita karena
rasanya tak mungkin kita makan bersama lagi.
Walaupun begitu, ibu sudah bayarkan untuk dua
orang, barangkali untuk kau dan istrimu. Anakku,
besar sekali arti undanganmu malam itu."

Pada detik itulah saya mengerti apa pentingnya
arti bahwa kita mengatakan kepada orang-orang
yang kita sayangi mengenai perasaan kita itu.
Tidak ada hal yang lebih penting dalam hidup
daripada Tuhan dan keluarga. Berikan waktu
Anda untuk mereka, jangan sampai terlambat
untuk mengatakan 'nanti'......

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments